Dari Mimpi Menjadi Realita

Anda di sini

Depan / Dari Mimpi Menjadi Realita

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Dari Mimpi Menjadi Realita

Pulau Lombok kini mulai dikenal oleh masyarakat dunia. Melalui keindahan dan keberagaman budaya yang dimiliki menjadikan Lombok sebagai referensi dunia yang layak dikunjungi. Semua kalangan bahu-membahu untuk terlibat dalam sektor industri pariwisata yang menjadi penyumbang devisa negara. Mulai dari kalangan pemerintah hingga masyarakat turut ambil bagian dalam upaya pengembangan destinasi wisata. Ditambah lagi saat ini Lombok mendapatkan penghargaan dunia sebagai tempat kunjungan terbaik yang difokuskan untuk bulan madu dan menjadi tujuan wisata halal.
Wisata halal menjadi salah satu brand yang belakangan ini dikembangkan. Tentunya, ini merupakan peluang besar dalam industri pariwisata. Tidak menutup kemungkinan sektor pariwisata Lombok yang sudah mendunia ini akan membuka peluang besar bagi masyarakat Lombok terkhusus anak muda. Selain itu, angka kemiskinan bisa saja diturunkan dari angka yang tidak normal karena mengingat bahwa terciptanya titik-titik kegiatan usaha di kalangan masyarakat adalah hal yang sangat mungkin terjadi.


Lombok memiliki lima kabupaten dan satu kota dimana masing-masing kabupaten memiliki potensi pengembangan wisata. Kabupaten Lombok Timur turut menjadi bagian dari ke-lima kabupaten tersebut. Banyaknya lokasi wisata seperti puluhan gili, pantai-pantai yang indah, dan gugusan gunung serta perbukitan yang menyimpan keunikan akan keanekaragaman hayati, membuat Lombok Timur memiliki daya tarik wisatawan yang tak kalah dari kabupaten/kota lain. Hutannya pun tak luput menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Jika berbicara mengenai hutan tentu yang terpikir dibenak kebanyakan orang ialah sebuah kawasan yang tidak boleh diperuntukkan pada aktivitas manusia. Padahal, tata kelola hutan dan lahan di Indonesia memberikan peranan pada tiap daerah baik di level propinsi maupun kabupaten untuk membuat suatu perencanan dalam pengelolaan hutan. Ada sebuah jaminan hukum yang diberikan kepada masyarakat akan keterlibatannya dalam pengelolaan hutan dengan tetap mematuhi rambu-rambu yang sudah ada.
Kesempatan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk turut mengambil peran dalam pengelolaan hutan, disambut baik oleh masyarakat tak terkecuali masyarakat di Desa Beririjarak. Adanya wisata alam yang ada di desa ini menambah daftar destinasi wisata yang layak dikunjungi ketika berkunjung ke Lombok khususnya Lombok Timur. Letaknya yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menambah panorama indah yang tersuguh bagi pengunjung. Tidak jauh dari kota mataram dengan daya tempuh sekitar 2 jam mempermudah pengunjung yang datang. Desa Beririjarak memiliki kelompok pemuda yang dinamakan GAPURA (Gerakan Pemuda untuk Perubahan Desa), di mana kelompok ini merupakan salah satu kelompok dampingan RMI-Gema Alam yang merupakan grantee MCA-Indonesia. Ini lah yang menjadi pembeda RMI_Gema Alam dengan grantee lain yang konsen terhadap pengelolaan hutan. Jika grantee lain terfokus pada pendampingan masyarakat pinggir hutan dalam upaya pengelolaan hutan dengan tetap menjaga hasil hutan seperti HHBK dan HHK, maka RMI-Gema Alam berfokus pada penyentuhan masyarakat dengan konsep ekowisata yaitu menjaga alam dengan menjual jasa lingkungan. Ekowisata yang diupayakan di Desa Beririjarak ini dinamakan Ekowisata Gawar Gong. Konsep ekowisata ini akan mengupayakan pengelolaan sumberdaya alam dengan megedepankan peran perempuan dan anak muda.


Lalu potensi wisata apa yang bisa dieksplorasi untuk memajukan Ekowisata Gawar Gong? Tidaklah sulit untuk menjawabnya. Karena Desa Beririjarak sendiri memiliki apa yang semestinya untuk dijajakan sebagai daya tarik bagi wisatawan. Jauh sebelumnya, RMI-Gema Alam sudah mengidentifikasi dan memetakan kawasan yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat pengembangan ekowisata di desa ini. Pengembangan ekowisata tidak sebatas mengembangkan saja. Akan tetapi, melihat potensi dan kesiapan SDA dan SDM juga perlu dilakukan.
Untuk meningkatkan kesiapan dari konsep ekowisata tersebut, RMI-Gema Alam dan para Pokdarwis (kelompok sadar wisata) mengadakan acara sosialisasi yang diadakan di Aula Kantor Desa Beririjarak pada tanggal 18 September 2017. Peserta yang hadir dalam acara ini meliputi tokoh masyarakat, kelompok pemuda, dan pemerintah baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten. Dari tingkat kabupaten, hadir Dinas Pariwisata dan KPH (Kesatuan Pengelola Hutan) Rinjani Timur. hadirnya Dinas Pariwisata memberikan semangat bagi para Pokdarwis. Menurut Dinas Pariwisata Lombok Timur, saat ini tamu mancannegara yang berkunjung tidak sebatas menikmati keindahan di lokasi wisata, akan tetapi para wisatawan juga ingin belajar dan menggali sosial budaya yang ada di Lombok. Hal ini menjadi kabar baik bagi Desa Beririjarak khususnya karena desa ini terkenal akan budaya, dan hasil bumi dari sektor pertaniannya. Belum lagi di sepanjang perjalanan pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan indah areal persawahan. Tradisi dalam bercocok tanam yang masih kuat terjaga juga menjadi penambah daya tarik bagi wisatawan.


Melihat banyaknya potensi tersebut meyakinkan kita bahwa Ekowisata Gawar Gong harus dikelola dan mendapatkan perhatian yang serius. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan para pengelola, hal pertama yang perlu dilakukan adalah pematangan konsep. Ini bertujuan agar masyarakat tidak latah ketika mendengar kata pariwisata. Karena selama ini, kebanyakan masyarakat menerjemahkan pariwisata sebagai sebuah gambaran yang identik dengan bangunan-bangunan megah seperti hotel yang diyakini dapat merusak alam, perilaku masyarakat dan budaya.
Program ekowisata diyakini mampu membuat masyarakat memberikan kontribusi terhadap terjaganya hutan. Selain itu, kabar baiknya lagi adalah aktifitas buruk pada alam seperti illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri akan berkurang mengingat sudah berjalannya aktivitas dan program ekowisata yang secara langsung melibatkan masyarakat dalam prosesnya. Dampak sosial seperti kelestarian lingkungan, peningkatan ekonomi masyarakat pinggir hutan lewat berbagai aktivitas. Tidak hanya memikirkan outcomenya selain itu perlu juga dipikirkan bagaimana tatangan kedepannya.

Dukungan Pemerintah
Jika para pemuda di suatu daerah bersatu dan mulai bergerak dengan penuh kesadaran akan pembangunan di daerahnya, maka tunggulah kejayaan daerah tersebut akan datang. Kalimat ini adalah cerminan dari aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh kelompok pemuda (GAPURA) di Desa Beririjarak. Dengan semangat dan tekat yang kuat, para pemuda tersebut mampu memulai sebuah langkah yang baik untuk kemajuan daerahnya, seperti membuat sebuah konsep ekowisata. Dukungan dari semua pihak pun tak terkecuali pemerintah mendorong terbangunnya ekowisata di desa ini. Dukungan tersebut  mulai diutarakan saat sosialisasi.
Sambutan dari Lalu Pauzi, selaku Kepala Desa Beririjarak menghangatkan suasana yang hari itu terasa cukup dingin. Lalu Pauzi sangat antusias dan menyambut baik konsep wisata yang disosialisasikan. Beliau dengan tegas menyampaikan kesiapannya dalam memfasilitasi kebutuhan demi keberlanjutan ekowisata tersebut. Mulai dari pembangunan fasilitas umum seperti toilet dan ruang ganti, hingga akses jalan yang masih berbatu akan menjadi prioritas dalam perbaikan yang akan difasilitasi oleh pemerintah desa. hal ini dikarenakan pemerintah desa memahami betul pentingnya fasilitas pendukung demi kepuasan wisatawan. Karena jika tidak, tidak menutup kemungkinan bahwa para wisatawan akan membawa pulang kesan yang kurang baik tentang Ekowisata Gawar Gong.


Tidak hanya pemerintah desa, pihak KPH Rinjani Timur yang memiliki wewenang dalam hal pengelolaan hutan juga menyampaikan apresiasi kepada para pihak yang mau mengelola hutan melalui pemanfaatan jasa lingkungan. Anggapannya, ekowisata yang diinisiasi ini merupakan konsep wisata yang memanfaatkan alam tanpa merusak alam itu sendiri. Menurut Kepala KPH Rinjani Timur, pihaknya akan terus ikut serta melakukan pendampingan.
Suasana sosialisasi mulai ramai dengan riuhan tepuk tangan setelah pihak dari Dinas Pariwisata menantang para pemuda untuk merealisasikan mimpinya. Tegasnya, pihak Dinas Pariwisata berencana untuk mendatangkan tamu dari luar. Bahkan selepas acara, pihak Dinas Pariwisata akan melakukan kunjungan langsung dan membuat perencaanan terkait kesiapan ekowisata dan beberapa fasilitas pendukung yang dibutuhkan salah satunya adalah Home Stay.
Beberapa potensi Gawar Gong di Lingkungan Desa Beririjarak yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengembangan Gawar Gong sebagai obyek ekowisata, adalah sebagai berikut:

  1. Pemanfaatan Hutan: Sekolah Lingkungan, Outbound, Camping ground, Jelajah Hutan, spot pemandian Kokoq Numpas/Air yang jatuh, dan spot pemantauan burung
  2. Atraksi Budaya Meliputi: Bertani ala suku Sasak, Pentas Legenda (Legenda Gawar Gong, Sepolong dan Balok Palis)
  3. Kuliner: Kuliner yang di sajikan disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat desa, seperti sajian nasi merah, Bebetok (Bahan dari daun talas yang diberi parutan kelapa dan campuran ikan dengan bumbu khas suku Sasak), Singgat, Banteng Ngangak dan lain sebagainya. Dan yang terakhir adalah minum kopi khas Beririjarak.
  4. Panorama alam: Bukit Mongkel dan Bukit Tembolak (ketinggian (800-1500 mdpl), Spot Sunrise, Panorama persawahan terasering, hutan
  5. Homestay
  6. Dan berbagai suguhan aktraksi budaya dan alam lainnya

Kaitannya dengan pengembangan Gawar Gong sebagai obyek ekowisata maka potensi lokal/kearifan lokal yang ada di sekitar Gawar Gong harus dioptimalkan, diberdayakan dan dilestarikan sehingga pengembangan Gawar Gong dapat terintegrasi dengan wilayah dampingan di desa binaan RMI-Gema Alam yang sejak awal sudah terbangun sehingga tercipta keberlanjutan sehingga tujuan utama untuk kesejahteraan masyarakat terutama perempuan dapat terjawab.

 

 

Feedback
Share This: