Harapan Para Perempuan Di Tepi Hutan

Anda di sini

Depan / Harapan Para Perempuan Di Tepi Hutan

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Harapan Para Perempuan Di Tepi Hutan

 

“Perempuan Karataun itu lebih tajir dari para laki-lakinya. Laki-laki hanya berkebun, sementara perempuan kadang menambang emas, mereka juga menenun. Hasilnya lumayan besar,” kata Martje Leninda dari konsorsium Perhutanan Sosial, Mamuju, Sulawesi Barat.

Ucapan itu bernada bercanda, tapi mungkin ada benarnya juga. Perempuan-perempuan di Karataun, sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat memang punya ragam aktivitas yang lebih banyak dari kaum laki-laki. Bila kaum pria hanya menghabiskan waktu di kebun atau ladang, maka kaum perempuan mengisi waktu selain membantu suami berkebun dengan menambang emas secara tradisional atau menenun. Kain tenunan orang Karataun kadang sampai dijual jauh ke Tana Toraja dan Bali.

 

 

Desa Karataun memang terkenal sebagai salah satu sentra tenunan tradisional di Mamuju. Mereka bahkan mengklaim tenunan orang Tana Toraja terinspirasi dari tenunan mereka. Desa-desa lain di Kecamatan Kalumpang juga sebenarnya punya tradisi yang sama, namun perlahan-lahan para perempuannya mulai meninggalkan kebiasaan itu.

“Biasanya itu berhubungan dengan lokasi berkebun. Desa yang lain semakin lama kebunnya semakin jauh dari desa, jadinya waktu lebih banyak tersita untuk berkebun,” kata Syahrun Latjupa, juga dari konsorsium Perhutanan Sosial.

 

Konsorsium Perhutanan Sosial juga mendampingi Desa Karataun, khususnya di isu hutan desa. Karataun terpilih sebagai salah satu desa dampingan karena dianggap memenuhi beberapa syarat, termasuk masih kuatnya lembaga adat mereka. Lembaga adat tersebut masih dihormati oleh warga, termasuk soal hubungan dengan hutan yang mengepung desa mereka.

Beda Karataun, beda Desa Tampalang. Tampalang yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tapalang, Mamuju juga salah satu desa dampingan konsorsium Perhutanan Sosial. Bedanya, di Tampalang mereka fokus pada isu Hutan Kemasyarakatan (HKm). Desa Tampalang yang terletak tidak jauh dari pesisir pantai ini memang sudah tidak terlalu kuat lagi memegang hukum adat.

“Dulu memang ada, tapi sekarang tidak dipakai lagi,” kata Yuria, salah satu warga Tampalang. Letaknya yang tidak jauh dari pesisir memungkinkan pengaruh modern lebih cepat masuk dan memengaruhi kehidupan mereka. Berbeda dengan Karataun yang ada di perbukitan dengan akses jalan yang sungguh sulit.

 

Salah satu kegiatan konsorsium Perhutanan Sosial di Tampalang adalah penguatan kapasitas kaum perempuan di sana. Saat ini 10 orang perempuan tergabung dalam kelompok perempuan yang mereka beri nama Merpati. Kelompok ini rencananya akan memberdayakan diri dalam program HKm, salah satunya adalah melakukan usaha pembibitan.

“Rencananya bibit buah-buahan,” kata Yuria ketika ditanya bibit apa yang akan diusahakan kelompoknya nanti.

Sebelum kedatangan konsorsium Perhutanan Sosial, perempuan Desa Tampalang nyaris tidak punya kegiatan lain selain membantu suami di kebun. Mereka juga kadang harus menginap berhari-hari atau berminggu-minggu di rumah kebun yang jauh dari kampung.

 

Hal yang sama juga dirasakan perempuan-perempuan di Desa Orobatu yang sama-sama masuk dalam kecamatan Tapalang. Di desa itu, konsorsium Perhutanan Sosial juga bergerak di isu HKm termasuk peningkatan kapasitas kaum perempuan.

“Ndak ada, biasanya ibu-ibu di sini ya kegiatan PKK saja atau majelis taklim,” kata Mardi, ketua kelompok HKm Orobatu ketika ditanya apakah perempuan di Orobatu sudah punya kelompok perempuan sebelumnya.

 

 

Saat ini memang sudah ada kelompok perempuan yang terbentuk di Orobatu, namun usianya masih seumur jagung dan hingga saat ini belum ada kegiatan. Untuk sementara anggota kelompok perempuan itu baru diikutkan dalam lokakarya tentang pengenalan hutan. Mereka dikenalkan pada jenis-jenis hutan misalnya: hutan desa, hutan adat dan hutan kemasyarakatan.

“Kami belum menentukan apa yang akan dikerjakan. Diskusi tentang itu baru akan digelar di bulan Maret,” kata Ernawati, pendamping desa dari konsorsium Perhutanan Sosial. Dalam diskusi itu rencananya baru akan digali, apa-apa saja yang akan dilakukan oleh kelompok perempuan di desa dampingan konsorsium Perhutanan Sosial.

 

Meningkatkan kapasitas dan peran perempuan di desa tepian hutan itu memang tidak mudah. Jalan panjang terbentang dengan durasi program yang tidak terlalu lama. Butuh perjuangan berat, termasuk bagi konsorsium Perhutanan Sosial yang mendampingi mereka.

“Kita mau belajar keterampilan juga. Misalnya mengolah rotan atau beternak lebah madu,” kata Marniati, ketua kelompok perempuan Merpati. Harapan besar yang diutarakannya dengan malu-malu. 

Feedback
Share This: