Kesetaraan Gender Untuk Kesejahteraan Bersama

Anda di sini

Depan / Kesetaraan Gender Untuk Kesejahteraan Bersama

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Kesetaraan Gender Untuk Kesejahteraan Bersama

Bertempat di Aula Hotel Sinar Tambolaka kabupaten Sumba Barat Daya pada tanggal 23-24 Mei 2017 lalu Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan NTT yang dikoordinator oleh CIS Timor dan beranggotakan 9 lembaga yaitu Yayasan Wali Ati (Yasalti), Yayasan Harapan Sumba (YHS), Satu Visi, Koppesda, Pakta, Pelita Sumba, Waimaringi dan Bengkel Appek melaksanakan kegiatan Pelatihan “Gender Mainstreaming Dan Hak-Hak Warga Dalam Pengelolaan Sumberdaya Pertanian, Peternakan Dan Sumber Ekonomi Tahap  II” untuk wilayah DAS Mangamba Ketewel.

 

Secara khusus kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kritis perempuan dan kelompok rentan lainnya tentang kesetaraan, keadilan dan relasi sosial gender, dan hak-haknya dalam pengelolaan sumberdaya alam, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan-peraturan yang mendukung perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan, memetakan potensi, peran perempuan dan kelompok rentan lain serta tantangan yang dihadapi  dalam pengelolaan SDA, menyusun strategi untuk mengoptimalkan potensi dan sumberdaya dengan  merancang  kegiatan-kegiatan untuk  meningkatkan keterlibatan mereka  dalam program (agenda utama perempuan di masing-masing desa) serta meningkatkan kerjasama antar sesama perempuan sebagai agen perubahan sosial/champion di desa.

 

 

 

Pelatihan ini difasilitasi oleh ibu Deby Rambu Kasuatu (Consultan SGIP, KPB-NTT) dan Ibu Wiyati W.S (Badan Pengurus YWKW) yang merupakan fasilitator Lokal yang telah berpengalaman sejak tahun 1999 di dunia Community Development berlangsung sejak tanggal 23 - 24 Mei 2017 serta melibatkan 30 peserta dari 10 desa dampingan Konsorsium Pembangunan Berkelanjutan NTT di daerah DAS Mangamba Katewel. Peserta diarahkan untuk melihat lebih dalam posisi perempuan dalam kehiduan rumah tangga dan masyarakat. Dengan memahami posisi dan memaknai perannya, diharapkan perempuan mampu melihat dan menjadi bagian dari penentu perubahan dalam keluarga atau pun lingkungan masyarakatnya.

Adapun gender adalah sebuah konsep sosial dan budaya yang membedakan peran antara laki-laki dan perempuan menurut kedudukan, fungsi, dan peranan masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam berbagai bidang pembangunan. Konsep gender sendiri merupakan sebuah pembedaan sifat, sikap, dan peran yang tidak terlepas dari cara pandang kita terhadap  pada laki- laki dan perempuan dan dibentuk oleh faktor sosial maupun budaya, sehingga muncullah berbagai pemikiran terkait peran sosial dan budaya laki-laki dan perempuan. Perempuan dikenal sebagai makhluk yang emosional, lemah lembut, dan anggun, sedangkan laki-lakiidentik dengan hal-hal yang merujuk pada kekuatan, ketegasan, kekuasaan, rasional, dan perkasa. Padahal Sifat-sifat tersebut dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, seks sendiri dapat diartikan sebagai perbedaan jenis kelamin antara laki-lakidan perempuan secara biologis dengan perbedaan dan ciri-ciri tertentu serta memiliki fungsi-fungsi yang berbeda). Laki-laki memiliki otot yang kuat, memiliki jakun, bersuara berat, memiliki penis yang berfungsi sebagai alat reproduksi. Perempuan mengalami masa menstruasi, memiliki rahim, serta vagina sebagai alat reproduksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gender dan seks merupakan dua hal yang berbeda. Gender mengarah pada pandangan masyarakat tentang perbedaaan peran, fungsi,tanggung jawab dan sifat antara laki-lakidan perempuan yang dihasilkan oleh konstruksi sosial budaya atau lingkungan dimana masyarakat tersebut hidup. Sementara itu, seks adalah perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.

Dalam kehiduan bermasyarakat, kita sering melihat laki-laki dianggap lebih cocok dengan pekerjaan di luar rumah (public), sementara perempuan dianggap lebih cocok dengan pekerjaan rumah tangga (domestic). Kenyataan lain juga adalah laki-laki lebih produktif dalam meningkat ekonomi keluarga. Padahal aktivitas domestik yang tidak menghasilkan uang itulah yang menghabiskan banyak waktu perempuan, sementara itu laki-laki menempa dirinya dalam berbagai aktivitas sosial atau publik dan menjadikannya sebagai pribadi dengan sumber daya manusia yang baik serta memiliki kemampuan produktif yag baik. Budaya patriarkat dalam masyarakat juga ikut memberi andil dalam menempatkan laki-laki dan perempuan pada peran mereka masing-masing.
Pada kenyataannya, telah banyak perempuan yang memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-lakidan peran perempuan yang makin besar dalam berbagai sektor, namun diskriminasi dalam berbagai bentuk masih dirasakan. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, perempuan masih mengalami diskriminasi dan berbagai bentuk ketidakadilan akibat bias gender.

Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk, antara lain beban kerja ganda, kekerasan, pelabelan, dinomorduakan, dan peminggiran. Beban kerja ganda tergambar dalam berbagai aktivitas yang tidak seimbang tersebut pada akhirnya membuat urusan domestik, produktif dan sosial menjadi tidak maksimal. Kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk perdagangan perempuan, kawin paksa baik diusia dini atau pun dengan pasangan yang tidak disukai, maupun kekerasan dalam rumah tangga. Tentu saja bentuk -bentuk kekerasan seperti itu sudah sering kita dengar dan hingga kini masih saja terus terjadi. Pelabelan atau cap-capan sering diterima oleh kaum perempuan. Pelabelan ini dapat berupa anggapan bahwa perempuan itu cerewet, bodoh, bahkan dinyatakan tidak bisa mempimpin. Selain itu perempuan sering menjadi yang nomor dua, tidak dianggap penting. Hal ini nampak pada saat-saat dimana perempuan terkadang diberhentikan dari sekolah lantaran keluarga ingin mendahulukan anak laki-laki dalam urusan sekolah.

Ketimpangan sosial akibat pemahaman yang kurang terkait kesetaraan gender ini masih sering terjadi. Hal ini sering kali menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan meski beberapa kasus tertentu laki-laki juga dirugikan. Karena itulah, masalah kesetaraan gender perlu diperjuangkan agar permasalahan-permasalan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat bisa teratasi.
Untuk bisa mengatasi ketimpangan gender yang sering terjadi, perlu ditelusuri penyebab-penyebabnya. Beberapa faktor yang menjadi penyebab dimaksud adalah sumber daya manusia dari perempuan itu sendiri yang rendah, kekuatan ekonomi yang tidak mendukung, kebiasaan atau budaya dalam masyarakat, serta kebijakan atau program yang tidak memihak pada perempuan.

 

Mengenal Potensi Yang Ada Sebagai Kekuatan Untuk Mengembangkan Kemampuan Diri
Perempuan sebagai bagian dari sebuah keluarga juga perlu berperan dalam usaha-usaha peningkatan ekonomi keluarga. Faktor pendukung peningkatan produksi adalah sejauh mana kases dan kontrol bisa berpengaruh maka sudah semestinya kemampuan perempuan diakomodir dalam aktivitas-aktivitas produktif. Akses adalah pemanfaatan sementara kontrol adalah penguasaan. Setiap perempuan perlu memiliki akses dan pengusaan terhadap sumber daya alam, terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya serta terhadap modal untuk kebutuhan-kebituhan usahanya. Adapun sumber daya alam, sumber daya manusia dan modal merupakan potensi atau kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia untuk meningkatkan hasil kerja produktif serta mampu mengalahkan penyimpangan sosial yang terjadi.

Sumber daya alam dapat berupa apa saja yang tersedia di alam dan dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan atau digunakan sebagai bahan pendukung dalam sebuah usaha. Dalam bidang holtikultura, sumber daya alam dapat berupa tanah atau lahan milik petani, air yang merupakan hal penting untuk kelangsungan hidup tanaman, serta kayu-kayu yang mendukung pembuatan pagar dan sebagainya. Untuk mendukung bank pohon serta usaha ternak, potensi sumber dayanya tidak jauh beda dengan potensi yang dimiliki dalam usaha pengembangan holtikultura.

Sumber daya manusia merupakan kemapuan orang-orang yang menjalankan sebuah usaha atau program, misalnya kemampuan petani dalam mengolah lahan. Kemampuan yang dimiliki manusia atau petani itu sendri dapat berupa keterampilan atau pengetahuan. Keterampilan dan pengetahuan itu akan sangat bermanfaat dalam berbagai usaha pengembangan peningkatan ekonomi masyarakat.
Modal atau uang merupakan faktor penting dimana dalam sebuah proses atau usaha memerlukan uang. Modal dapat berupa pupuk, benih-benih tanaman atau ternak, peralatan yang tersedia, serta vitamin atau vaksin.

 

Peserta kegiatan yang semuanya merupakan petani dan peternak tersebut perlu menganalisis potensi yang ada di desa agar dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan untuk peningkatan ekonomi. Kerjasama yang baik antara laki-laki dan perempuan tanpa membebani salah satu pihak juga merupakan faktor penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan keluarga dan masyarakat.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini telah membuka pola pikir serta pemahanam peserta tentang perempuan dan perannya. “Saya sangat bahagia dan senang dengan pelatihan ini. Dengan pelatihan ini saya mengetahui lebih banyak tentang perempuan dan peran-perannya dalam keluarga dan masyarakat. Saya akan lebih menghargai dan bangga dengan diri saya sendiri karena saya adalah seorang perempuan yang kuat” Demikian kata ibu Theresia Ina Geo yang merupakan utusan dari kelompok tani Iya Ate di desa Wee Manada kecamatan loura diakhir kegiatan. **

Feedback
Share This: