Kunjungan PMC MCA Indonesia ke PEKA SINERGI dan BCC

Anda di sini

Depan / Kunjungan PMC MCA Indonesia ke PEKA SINERGI dan BCC

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Kunjungan PMC MCA Indonesia ke PEKA SINERGI dan BCC

Pagi itu, cuaca yang mendung dan bunyi rintik air hujan menemani perjalanan tim PMC-GK MCA-Indonesia yang tengah berkunjung ke lokasi penerima manfaat yang mendapatkan bantuan alat terkait energi baru terbarukan (RE) dari kegiatan Green Knowledge. Kunjungan diagendakan selama 4 hari mulai dari tanggal 6 sampai dengan tanggal 9 Nopember 2017. Tim PMC (Program Management Consultant) GK (Green Knowledge) yang melakukan kunjungan hari itu menjadi satu kesatuan dalam proyek kemakmuran hijau. Mengingat kegiatan yang dilakukan para grantee MCA- Indonesia sudah memasuki quartal ke 9 atinya semua kegiatan sudah mendakati titik finalisasi termasuk perlengkapan peralatan yang diberikan ke para penerima manfaat. Grantee yang dikujungi di antaranya Peka Sinergi dan Blue Carbon Consortium. Tim PMC yang ditugaskan berkujung ke lokasi Kegiatan aktivitas GK untuk Renewable Energy (RE) yaitu Risalwan Lubis selaku PMC-GK Lead dan ditemani oleh PMC RE-Expert Safarudin Siregar. Kunjungan akan dilaksanakan secara menyeluruh ke semua penerima manfaat yang mendapatkan bantuan peralatan RE.


Kunjungan pertama terfokus di Kabupaten Lombok Timur. Teluk Jor menjadi lokasi demoplot dari Blue Carbon Consortium yang pertama di kunjungi kabupaten tersebut. Di Teluk Jor, terdapat instalasi terminal charger yang diperuntukkan bagi nelayan sekitar untuk mendapatkan pasokan energi listrik yang digunakan sebagai penerang di bagang (Bagang: tempat penangkapan ikan). Metode penangkapan ikan dengan Bagang  dirasakan mampu meningkatkan pendapatan nelayan. Dari sinilah muncul sebuah gagasan untuk bagaimana meningktkan pendaptan nelayan akan tetapi lingkungan juga terjaga. Solusinya adalah Bagang Terminal Charger (BTC). BTC yang dibangun ini mendapat pasokan listrik dari tenaga surya yang dipasang di tengah laut tepatnya di atas bagang yang khusus dibangun. Pemasangan terminal charger ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil disinyalir sebagai penyumbang emisi karbon. Sehingga bagang ramah lingkungan adalah salah satu alternatifnya. Selain itu juga dengan adanya terminal charger ini mengurangi biaya operasional dalam hal bahan bakar.
Setelah menyeberangi lautan dan meninggalkan Teluk Jor, tim melanjutkan kunjungan menuju sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK yang dikunjugi ini merupakan Sekolah yang menerima manfaat sekaligus menjadi pilot project teknik energi terbarukan yang diprakarsai oleh Peka Sinergi (KM Utama, Univ. Mataram dan TEDC Bandung). Sekolah yang pertama kali didatangi yaitu SMKN 1 Sakra.
SMKN 1 Sakra merupakan salah satu dari 12 SMK yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan energi terbarukan terutama dalam hal penyiapan tenaga ahli. Untuk memenuhi harapa tersebut, berbagai upaya telah dilakukan mulai dari pelatihan bagi guru-guru hingga penyusunan modul pembelajaran TET. Hal tersebut merupakan salah satu upaya transfer knowledge yang dilakukan oleh Peka Sinergi. Tidak hanya itu, Peka Sinergi juga menyediakan bantuan peralatan kepada SMK, akan tetapi tidak semua sekolah yang terdiri dari 12 sekolah mendapatkan bantuan alat. Sekolah kejuruan yang mendapatkan bantuan alat di Kabupaten Lombok Timur meliputi SMKN 1 Sakra dan SMKN 1 Pringgabaya. Kedua sekolah ini mendapat bantuan berupa peralatan energi surya. Dengan adanya bantuan alat ini, sekolah tersebut diharapkan mampu menunjang keberlanjutan dari program ini.
Hari kedua diagendakan untuk mengunjungi SMK Pilot TET yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. SMK yang menjadi tujuan kunjungan antara lain SMKN 1 Batukliang Utara (Biomass), dan SMKN 2 Praya Tengah (Surya).  Setiap sekolah mendapatkan bantuan alat yang kini sudah terpasang dan langsung dimanfaatkan oleh pihak sekolah. Di hari itu, tim PMC-GK tidak hanya kunjungan ke SMK, tetapi juga menyambangi Universitas Mataram. Universitas Mataram memiliki peranan sebagai tempat uji kompetensi. Sehinga alat-alat penunjang untuk pelatihan TET sudah terpasang.
Hari Ketiga tim PMC-GK mengunjungi Kabupaten Lombok Utara. SMKN 1 Tanjung menjadi tujuan pertama. Kedatangan tim PMC-GK disambut pihak sekolah. Perbincangan pun mulai. DI SMK ini mendapat bantuan alat berupa instalasi Biomass.  Setelah berbincang-bincang dengan pihak sekolah, tim melakukan pengecekan alat.  Selain SMKN 1 Tanjung, SMKN 1 Bayan juga menjadi sasaran kunjungan hari itu. SMKN 1 Bayan mendapatkan bantuan alat energi surya. Hal ini sesuai dengan potensi.


Setelah Bayan, sasaran kunjungan berikutnya adalah Desa Rempek. Di desa ini, terdapat Demoplot Digester Biogas yang dibangun di Kandang Kolektif milik para kelompok Tani Ternak Pelita. Pembangunan ini di inisiasi oleh Blue Carbon Consortium (BCC). Pembangunan demoplot biogas tersebut ditujukan untuk media pembelajaran dan informasi bagi para petani dan peternak dalam hal perbaikan lingkungan serta upaya penurunan emisi karbon akibat aktivitas limbah ternak, yang sebagian besar dibuang ke aliran sungai dan juga memiliki aroma yang menganggu. Upaya semacam ini diharapkan mampu mengurangi aktivitas yang dapat mencemari lingkungan. Selain itu, demoplot yang di bangun di atas tanah area kandang kolektif dapat dimanfaatkannya bio slurry (ampas gas) sebagai pupuk. Sedangkan Gas yang dihasilkan dari degister merupakan bonus dari limbah ternak yang dikelola.
Sesampai di lokasi, terlihat ratusan polibag yang berisikan tanaman berupa cabe, tomat, terong dan tanaman lainnya memenuhi area kosong yang ada sisi kiri kandang kolektif. Tananam yang dibudidayakan ini merupakan tanaman contoh untuk pemanfaatan Bio Slurry. Tidak sampai di situ, Bio Slurry juga dikemas dan dijual oleh pengurus kelompok dan sebagian dimanfaatkan di sawah milik anggota kelompok.
Setelah melakukan kunjungan selama tiga hari, tiba lah tim PMC melakukan kunjungan di hari ke empat yang merupakan hari terakhir kunjungan. Sekolah yang menjadi tujuan yaitu SMKN 1 Lingsar dan SMKN 3 Mataram. SMKN 1 Lingsar menjadi sasaran pertama. Sekolah ini sejak awal sudah berkomitmen untuk berupaya bagaimana meningkatkan SDM khususnya untuk Teknik Energi Terbarukan. Keseriusan sekolah ini dapat dilihat dari kesiapannya dalam mengembangkan TET. Ada empat poin penting yang menjadi sorotan, sekaligus sebagi nilai tambah SMKN 1 Lingsar dalam pengembangan energi terbarukan di pulau lombok, antara lain (1) Leadership (Kepemimpinan): Banyak sekolah yang memiliki peluang untuk selalu berinovasi dan berkembang, tapi tidak didukung oleh pimpinan dalam hal ini kepala sekolah. Faktor penyebabnya adalah kurang gregetnya kepala sekolah dalam menangkap isu dan peluang. Hal ini dikarenakan kebanyakan kapasitas kepala sekolah tidak sesuai dengan bidang yang ditekuni. SMK 1 Lingsar menjadi contoh dalam hal ini, kepala sekolah yang berlatar belakang seorang sarjana teknik dan memberikan peluang sebesar-besarnya bagi setiap rekan kerjanya (guru) untuk terus berinovasi. Dan bahkan sekolah ini sudah mulai membuka jurusan TET. Selanjutnya adalah (2) Team work: Jika kepala sekolah memiliki segudang perencaan untuk perkembangan sekolah, akan tetapi tidak ada rekan kerjasama juga tidak ada artinya. Team kerja yang dimiliki oleh sekolah ini sangat baik dan solid. Setiap ada peluang kepala sekolah selalu memberikan informasi.  Dan Sekolah ini memiliki Tim Kerja yang solid, kreatif dan penuh inovatif. Selain Leadership dan team work, (3) Komitmen kelembagaan juga menjadi poin penting dalam kesiapan pengembangan TET. Tidak hanya mengharapkan bantuan dari pihak luar, sekolah ini juga memiliki komitmen dalam pengembangan energi terbarukan. Tidak hanya hydro surya pun dijadikan bagian dari bahan ajar. Terbukti dengan terpasangnya beberapa alat. Inovasi dan usaha sendiri dalam pengadaan alat sebagai bahan pembelajaran menjadikan SMK ini terus memantapkan diri. Poin terakhir adalah (4) Sumberdaya Alam. Sekolah ini dilengkapi dengan sumberdaya alam yang memadai. Air yang melimpah menjadi nilai tambah dalam pengembangan energi terbarukan khususnya hydro.
Setelah berdiskusi panjang, dilanjutkan ke pengecekan alat. Bersyukur hari itu cuaca sangat cerah, walau sedikit berawan. Tepat pukul 11.00 Wita, tim berlanjut ke SMKN 3 Mataram dan sekaligus menjadi penutup kunjungan .
Tepat pukul 11.35 Wita, tim sampai di lokasi terakhir kunjungan. Kedatangam Pak Risalwan dan Pak Siregar yang ditemani langsung oleh Ibu SIlvana dari pihak Peka Sinergi disambut oleh pihak sekolah, walau kepala sekolah di SMK ini belum ada, karena kepala sekolah dipindah tugaskan menjadi Kasi Kurikulum SMK Dikpora NTB. Diskusipun mengalir dengan membahas maksud dan tujuan kunjungan.
Ada hal yang menarik disela-sela kunjungan terakhir. Lampu PJU (Penerang Jalan Umum) yang terpasang di depan halaman SMKN 3 Mataram sempat mengalami gangguan teknis disebabkan karena pemasangan PJU, tutur pihak sekolah yang kami temui. Pak Suyono, selaku guru di SMKN 3 Mataram  sekaligus guru yang terlibat dalam proyek Peka Sinergi mulai menyelusuri kejanggalan apa yang terjadi dan akhirnya terjawab, lampu PJU pun kini menerangi malam-malam halaman sekolah tersebut. Bukan hanya tentang lampu PJU, Pak Suyono juga membuktikan bahwa ilmu yang didapatkan dari pelatihan yang diberikan oleh Peka Sinergi mampu memberikan peluang dalam pengembangan energi terbarukan. Tidak lama ini beliau dipercaya menjadi instruktur dalam bidang energi terbarukan khususnya energi surya. Guru yang memiliki ketekunan dan semangat yang selalu berinovasi  ini sudah mulai menjalin kerjasama dengan pihak luar. Sebelumnya, beliau diminta untuk memasang panel surya dan pada akhirnya terjalin kerjasama dengan membawahi SMKN 3 Mataram. Kerjasama ini rencananya akan dibentuk sebuah pelatihan bagi tenaga ahli yang suatu lembaga yang sedang mengembangkan energi terbarukan untuk masyarakat.


Semua ilmu yang didapatkan, selain dari sekolah juga didapatkan dari pelatihan-pelatihan yang diikuti. Saat kunjungan PMC GK beliau menyampaikan rasa berterima kasihnya atas apa yang diberikan oleh Peka Sinergi. “apa yang didapatkan dari Peka Sinergi itu banyak dalam arti seperti ini kita belajar dari energi terbarukan dan isu-isu pengembangan RE bisa ditarik menjadi peluang, sebut saja misalnya Disnakaker dan Dinas pertambangan sangat membutuhkan patner kerja, terutama dalam pelatihan dan perbaikan. Lihat saja banyak PJU yang terkapar membutuhkan perbaikan, ini bisa menjadi peluang”
Tidak hanya SMKN 1 Lingsar, sekolah lain yang menjadi pilot proyek sudah menunjukkan kesiapan. Pengembangan energi terbarukan di Indonesia terus digalakkan, hal ini menjadi peluang bagi sekolah-sekolah yang menyiapkan tenaga ahli energi terbarukan. Peluang kerja di pasar industri energi terbarukan terbuka lebar.
***
Kedatangan tim PMC-GK MCA-Indonesia ke Lokasi yang disebutkan bertujuan untuk memastikan apakah alat yang dipasang sudah sesuai dengan perencanaan atau belum. Selepas proyek ini, alat yang menjadi aset grantee MCA-Indonesia nantinya akan diserah terimakan ke pemerintah daerah. Misalnya untuk bantuan alat untuk menunjang praktik siswa SMK, ini akan bersentuhan dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora). Oleh karena itu, MCA-Indonesia selaku pemberi dana hibah harus memastikan kwalitas barang yang diberikan termasuk kelengkapan dari administrasi.
Selain itu, tim PMC juga ingin memastikan bahwa pemanfaatan alat-alat tersebut tidak hanya dipergunakan pada saat uji kompetensi saja melainkan juga sebagai alat belajar siswa yang mengambil keahlian energi terbarukan. Informasi tersebut pun kami peroleh karena selain sebagai alat uji komptensi, alat-alat tersebut juga akan dipergunakan sebagai sarana praktikum untuk perakitan dan perawatan komponen energi terbarukan bagi siswa. Memastikan keberfungsian dan kelengkapan alat yang sudah diberikan di sekolah-sekolah tersebut juga menjadi tujuan dari kunjungan. Hal ini mengacu pada pernyataan Bapak Risalwan yang mengatakan “kami tidak menginginkan ketika serah-terima ada alat yang tidak berfungsi dan kurang lengkap”.
Selama empat hari kunjungan lokasi penerima manfaat dari program Green Knowledge yang didanai oleh MCA-Indonesia, ada beberapa masukan bagi para grantee terutama dalam hal kesiapan alat dan kelengkapannya, karena mengingat program ini akan berakhir (aktivitas lapangan) di Bulan Desember, yang kemudian akan dilanjutkan dengan serah-terima aset ke pemerintah terkait.

 

Feedback
Share This: