Melirik Peluang Usaha Perikanan Air Tawar Berbasis Lemna

Anda di sini

Depan / Melirik Peluang Usaha Perikanan Air Tawar Berbasis Lemna

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Melirik Peluang Usaha Perikanan Air Tawar Berbasis Lemna

Siang itu Rabu 4 Oktober 2017 sekitar pukul 11.00 waktu setempat, Field Officer BaKTI mengunjungi saung tani Lima Sejahtera yang diketuai Bapak Jhon Lukas Ludji di Kelurahan Mauhau, Sumba Timur. Sekitar 40 peserta nampak sedang bersiap-siap mengikuti kegiatan “Pelatihan Budidaya Ikan dan Bioslurry Lemna” yang dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Energi (YRE) dengan dukungan Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia.

“Kegiatan ini masih merupakan bagian dari program GADING yang sedang kami jalankan. Jika sebelumnya para peserta sudah kami latih tentang pengolahan ampas biogas berupa bioslurry padat dan cair sebagai pupuk, tentang pengembangan lemna/duckweed berbasis bioslurry untuk pakan ternak termasuk ikan maka kali ini kami ajarkan lagi mereka tentang budidaya ikannya, khususnya ikan nila yang juga berbasis bioslurry” demikian penjelasan Bapak Kornelis K Lidjang dari YRE.

 

Adapun peserta yang terlibat, selain merupakan anggota kelompok tani Lima Sejahtera, kelompok wanita tani (KWT) Harapan Baru dan juga anggota Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) dari Balai Perempuan (BP) wilayah Matawai, dimana rata-rata peserta adalah user biogas yang dibangun lewat program TERANG dukungan MCA Indonesia.

Menurut Pak Y. M Hudioro dari Dinas Perikanan Sumba Timur, selaku narasumber dalam kegiatan pelatihan ini bahwa saat ini harga ikan air tawar sebenarnya mahal namun petani belum melihat kegiatan membudidayakan ikan air tawar sebagai peluang usaha baru hanya sebatas hobi atau untuk bersenang-senang saja. Sementara itu disisi lain, harga pakan ikan (pelet) juga mahal. Kondisi inilah sebenarnya yang harus lebih jeli dilihat oleh petani sebagai peluang usaha.

Di halaman depan rumah Bapak Jhon Ludji, nampak sebuah kolam ikan berukuran 20 x 6,5 m² yang berisi bibit ikan nila super (nila gift) sebanyak 4000 ekor yang dibudidayakan sejak bulan Agustus 2017, perkiraan akan dipanen pada bulan Desember 2017 dan dengan pengalaman budidaya nila sebelumnya harga jual mencapai Rp 50.000/kilogram. Bibit ini dibeli sendiri dari Jogja.

 

 

 

Nila gift (genetic inprovement of farmed tilopias) merupakan hasil persilangan dan seleksi dari jenis-jenis nila dari Taiwan, Mesir, Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal dan Kenya. Dibandingkan nila lokal, nila gift bertubuh lebih pendek dengan ukuran kepala yang relatif lebih kecil dari nila lokal. Keunggulan nila gift adalah jumlah telur lebih banyak 20-30%, berat benih mencapai17,5 gram dan pertumbuhannya lebih cepat, pertumbuhan saat pembesaran kuga lebih cepat dengan konversi pakan rendah, tahan terhadap lingkungan yang kurang baik den memiliki toleransi hidup di perairan dengan salinitas 0-15% sehingga bisa dipelihara di perairan payau.

Ikan nila adalah salah satu dari berbagai jenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur pada tahun 1969 dan kini menjadi peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia seklaigus sebagai hama di setiap sungai dan danau Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis Niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.

Untuk budidaya nila sendiri selain faktor persiapan kolam, pemilihan benih merupakan faktor penting yang menentukan tingkat keberhasilan budidayanya. Untuk hasil maksimal sebaiknya gunakan benih berkenis kelamin jantan karena pertumbuhan nila jantan 40 persen lebih cepat dari pada ikan nila betina. Adapun persyaratan dalam memilih benih yang baik sebagai berikut: ukuran sama, warna cerah, gerakan lincah, fisik tidak cacat, sirip dan sisik lengkap, tidak terlihat bintik putih, luka, dan lain-lain.

 

Pengelolaan pakan juga sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya pakan merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan nila karena mereka harus diberikan pakan yang mengandung kadar protein sebanyak 20-30 persen. Ikan nila membutuhkan pakan kering sebanyak 3 persen dari bobot tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan sore hari. Untuk kondisi ini tentu saja lemna menjadi solusi yang sangat membantu untuk ketersediaan pakan dengan kandungan protein yang sangat baik, apalagi jika lemna tersebut dipupuk menggunakan bioslurry cair.

Dalam pelatihan ini selain peserta mendapat materi tentang teknis budidaya ikan nila, mereka juga dibekali dengan pengetahuan terntang gambaran resiko usaha/analisa usaha ikan nila selama 1 tahun pada lahan seluas 50m² dengan jumlah bibit sebanyak 1500 ekor, mulai dari perhitungan biaya investasi, biaya operasional termasuk menghitung biaya pakannya sampai keuntungan yang diperoleh.

Feedback
Share This: