Penyelamat Gambut Cilik dari Pelalawan

Anda di sini

Depan / Penyelamat Gambut Cilik dari Pelalawan

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Penyelamat Gambut Cilik dari Pelalawan

Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau memiliki luas 1.240.413,95 Ha dengan wilayah dataran rendah pada umumnya merupakan dataran rawa gambut, dataran aluvium sungai dengan daerah dataran banjirnya. Dataran ini dibentuk oleh endapan aluvium muda dan aluvium tua terdiri dari endapan pasar, danau, lempung, sisa tumbuhan dan gambut. Provinsi Riau, ditetapkan sebagai salah satu provinsi prioritas restorasi gambut oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) setelah kebakaran lahan dan hutan melahap seluas 174.000 Ha pada tahun 2015 lalu. Asap dari kebakaran ini membuat puluhan juta orang di Sumatera, Singapura, dan Malaysia mengalami gangguan ISPA dan kerugian ekonomi mencapai 20 triliun. Luasan Kesatuan Hidrologis Gambut provinsi Riau mencapai 5,7 Juta Ha dengan pemanfaatan untuk hutan (hutan primer, hutan sekunder, serta hutan tanaman industry) perkebunan, serta untuk lahan tanaman pangan seperti sawah dan ladang. Jika ditinjau dari segi izin penggunaan lahan gambut untuk kehutanan dan perkebunan, lahan gambut di Riau dibagi menjadi dua yaitu kawasan budidaya dan kawasan lindung. Mengingat tingkat kekritisan lahan gambut di Riau mencapai 2.437.766 Ha (62%) di sisi lain masyarakat menggantungkan hidupnya dari pengelolaan lahan gambut seakan dua sisi mata uang. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah termasuk pemerintah daerah dengan membentuk Tim Restorasi Gambut di Daerah untuk mempercepat pemulihan kawasan dan pengembalian funsi hidrologis gambut akibat kebakaran hutan dan lahan. Tentunya pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, Pemerintah memberikan kesempatan kepada organisasi/lembaga lain untuk bekerjasama mencapai tujuan ini.

Berkaca dari bencana kabut asap yang terjadi, sesungguhnya masih terbuka kesempatan luas untuk memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan ekosistem gambut agar menjadi lebih baik. Salah satunya memberikan pengetahun yang lebih mendetail mengenai ekosistem gambut sangat diperlukan untuk dapat membantu para pengambil keputusan dalam mengelola dan atau melindungi ekosistem ini. Lebih banyak informasi perlu disebarluaskan kepada banyak pihak, dan terutama diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak Indonesia. Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh Yayasan BaKTI, tepatnya pada tanggal 13 April 2017 bertempat di SDN 06 Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Sebanyak 102 siswa terdiri dari siswa kelas 4 dan 5 dari SDN 06, SDN 07 dan SDN 07 dan beberapa guru sekolah turut berpartisipasi pada kegiatan Pemutaran Video Animasi dan Sosialisasi Komik “Mengenal Ekosistem Gambut”. Komik dan Video Animasi bertujuan untuk menjadi jendela visual yang menambah khazanah anak-anak usia Sekolah Dasar mengenai ekosistem gambut termasuk fungsi dan peran pentingnya selain itu dapat menjadi referensi dan bahan ajar bagi guru-guru di sekolah. Pengetahuan yang baik mengenai ekosistem ini dapat menjadi dasar bagi anak-anak, calon pengambil keputusan pengelolaan lingkungan hidup di masa depan untuk dapat memanfaatkan dan mengelola ekosistem ini dengan baik.

Pengenalan akan beragam ekosistem gambut ini juga diharapkan dapat membuka wawasan mereka akan peluang-peluang yang tersedia di masa depan dalam mengelola sumberdaya dan melakukan inovasi teknologi pengelolaan ekosistem ini. Jika ditelisik lebih jauh, kurikulum 2013 yang menjadi acuan sekolah telah mengajarkan tentang ekosistem mulai dari kelas 4, namun belum spesifik diajarkan tentang gambut. Hal ini terbukti dari hasil pre test yang dilakukan sebelum anak-anak membaca komik dan menonton video animasi, pada umumnya, mereka telah mengetahui informasi umum mengenai ekosistem. Komik dan video animasi berisi informasi umum mengenai proses terbentuknya gambut, sifat dan ciri-ciri gambut, tempat bagi habitat tumbuhan dan satwa langka, pemanfaatan dan penggunaan lahan gambut untuk pertanian, perkebunan dan perikanan sampai pada kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar  tanah serta mampu menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Oleh karena itu perannya sangat penting dalam hidrologi, seperti mengendalikan banjir saat musim penghujan dan mengeluarkan cadangan air saat kemarau panjang.

Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini, terlebih ada kak Heru dan Kak Agus yang mendongeng membuat suasana siang itu semakin menarik. Di sela-sela kegiatan, Kak Heru juga memberikan beberapa pertanyaan/kuis, bagi yang berhasil menjawab dengan benar diberikan hadiah, sontak saja anak-anak bersemangat menjawab sampai Kak Heru kewalahan dibuatnya.

“Kami sangat senang mengikuti kegiatan ini, karena banyak info baru tentang gambut yang baru kami tahu juga, padahal dalam kehidupan sehari-hari kami banyak memanfaatkan lahan gambut” ujar Nafa, siswa kelas V SDN 07.

Hal senada, diungkapkan oleh Ibu Nuraini (Kepala Sekolah SDN 06) beliau mengapresiasi kegiatan ini dan berharap kegiatan ini dapat juga dilakukan di kabupaten lainnya di provinsi Riau. “Metode dan pendekatannya menarik, sehingga anak-anak tidak bosan mengikuti kegiatan ini”, ujar Ibu Nuraini.

Lebih lanjut dalam sambutan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan, yang diwakili oleh Bapak Asmadi menyampaikan sungguh diperlukan usaha dalam memperkuat masyarakat yang berada di sekitar kawasan gambut dengan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang arti penting dari memelihara hutan dan wilayah gambut, “ananda sekalian yang akan memegang peran penting ini di masa yang akan datang” ujar Pak Asmadi di akhir sambutannya. 

Feedback
Share This: