Petani sebagai Kunci Keberlanjutan Program

Anda di sini

Depan / Petani sebagai Kunci Keberlanjutan Program

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Petani sebagai Kunci Keberlanjutan Program

Mamasa merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Polewali Mamasa, hal ini didasarkan pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo di Sulawesi Selatan. Berbatasan dengan Kabupaten Mamuju dan Mamuju Tengah di sebelah Utara, Kabupaten Polman di sebelah selatan, Kabupaten Mamuju dan Polman disebelah Barat dan Kabupaten Tanah Toraja dan Pinrang di sebelah timur. Kabupaten ini memiliki Luas wilayah 3.005,88 km2 dan terdiri dari tujuh belas kecamatan. Mamasa dikenal dengan sebutan Kondo Sapata’  yang dalam arti luas adalah wilayah tanah adat yang didiami sekelompok orang dan memiliki prinsip-prinsip hidup yang sangat baik, beradab, punya falsafah yang sangat kokoh, yang berfungsi untuk mengikat masyarakat sosial yang ada di dalamnya, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi agar tetap hidup dalam kekeluargaan, rukun dan damai.

 

 

Di suatu pagi yang cukup cerah, Pampang Dika, seorang petani berumur tujuh puluh dua tahun baru saja turun dari kendaraan bermotor yang dikendarai oleh seorang anak muda. Ia bergegas menuju kantor Desa Balla Barat untuk mengikuti sebuah pelatihan yang diperuntukkan bagi petani. Kantor desa telah dipenuhi petani lain yang berasal dari lima desa di Kabupaten Mamasa, yakni Desa Balla Barat, Ballasa Taneteang, Ballatumuka, Porondobulawan dan Mannababa. Kegiatan tersebut adalah Pelatihan Community Organizer (Petani Kader/Penggerak) yang diinisiasi oleh Konsorsium Padang Diada’I sebagai bagian dari Proyek Kemakmuran Hijau untuk pemanfaatan sumber daya alam berbasis masyarakat MCA-Indonesia di Kabupaten Mamasa.  Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa proses pemberdayaan tetap jalan baik secara teknik pertanian maupun non teknis, maka anggota kelompok tani yang menjadi penerima manfaat langsung yang memiliki jiwa, sikap dan semangat untuk memajukan usaha dan kelompoknya akan dilatih pelatihan bagaimana menggerakkan masyarakat melalui program pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari dimulai dari tanggal 1 hingga 6 Mei 2017 di tiga lokasi, yakni Desa Rippung Kecamatan Messawa, Desa Rantepuang Kecamatan Sesena Padang dan Desa Balla Barat Kecamatan Balla. Selama dua hari pelatihan, para petani diberi pengetahuan tentang bagaimana melakukan komunikasi yang baik, mengenal jenis-jenis kepemimpinan, bagaimana mengubah cara pandang sebagai bekal menjadi petani kader, dan membuat rencana tindak lanjut ke depan. Pelatihan ini sangat menarik karena dikemas dalam metode permainan dan diskusi kelompok yang terkesan akrab dan partisipatif.

 

Selain diikuti oleh perwakilan kelompok tani dari beberapa desa sasaran project, kegiatan ini juga dihadiri Regional Manager GPM-EMM, Rahmat Sabang yang dalam sambutannya mengungkapkan “bahwa apapun yang dilakukan harus bermitra dengan pemerintah daerah untuk menjalankan program yang belum dianggarkan. Program ini akan berakhir di Desember 2017. Kekuatan MCA-Indonesia bahwa yang menjalankan program yakni orang-orang sekitar lokasi program, orang Mamasa asli. Keberlanjutan program ini tergantung dua hal yakni pertama dari bapak/ibu dan kedua dengan dukungan pemerintah desa”. Rahmat Sabang juga menaruh harapan agar melalui pemerintah desa kegiatan ini bisa berlanjut dengan menggunakan anggaran desa yang dituangkan dalam perencanaan. Senada yang disampaikan Regional Manager GPM-EMM, Yusuf Depparinding selaku program Manager juga menyampaikan bahwa di akhir program nantinya akan menghadirkan kembali petani kader bersama Konsorsium Padang Diada’I untuk mempresentasikan program yang telah dilaksanakan agar menjadi perhatian dan prioritas pemerintah daerah kedepannya.

 

 

Andarias (50 thn) selaku Kepala Desa Balla Barat menuturkan bahwa  93% masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani sawah, pekebun kopi dan coklat yang selama ini hasil panen padinya sebatas hanya untuk dikonsumsi sendiri sedangkan hasil kebun berupa kopi dan coklat dijual di pasar Mamasa.  Namun yang menjadi kendala dari segi pengetahuan petani yang masih terbatas dalam mengembangkan diri dan kelompoknya serta  masih banyak lahan yang belum dikelola dan dimanfaatkan sehingga melalui pelatihan ini harapannya dapat menambah gairah petani untuk lebih berbuat lagi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Sekertaris Desa Rantepuang yang juga bernama Andarias (46 thn) bahwa dari mayoritas penduduknya adalah penghasil kopi dan tanaman holtultura selain itu adapula pengrajin kain tenun Mamasa. Dengan adanya kegiatan pelatihan tersebut selaku pemerintah desa sangat mengapresiasi dan mendukung karena mengangkat sumber daya manusia dan berharap apa yang telah diperoleh dari program yang dilaksanakan oleh MCA-Indonesia melalui Konsorsium Padang diada’I dapat dterapkan dalam kelompok tani masing-masing.

 

Selain Pampang Dika yang tertarik dengan kegiatan tersebut di Desa Balla Barat, hadir pula seorang perempuan yang lahir pada tahun 1973. Ia menggunakan sarung dan topi yang motifnya dikombinasikan dengan kain tenun Mamasa, perempuan itu bernama Bertha yang tergabung dalam Kelompok wanita Tani (KWT) Pambe’ Desa Rantepuang.  Selain sebagai ibu rumah tangga, di waktu luangnya Bertha menghabiskan waktunya dengan berkebun lombok. “tiap minggu saya dapat  200.000 rupiah. 10 liter itu paling banyak kalau paling sedikit hanya dapat 5 liter” ungkapnya. Ibu Bertha sangat senang bisa menjadi bagian dari pelatihan karena dapat menambah wawasannya sebagai petani bahkan ke depan akan berencana menanam pohon aren mengingat potensi tanaman aren di desanya cukup banyak. Apalagi bekal pengetahuan tersebut juga diperoleh dari pelatihan beberapa minggu lalu yang juga dilaksanakan oleh Konsorsium Padang Diada’i. Tidak hanya sampai di situ perempuan yang suka senyum ini ternyata dalam seminggu dapat menghasilkan sebuah sarung melalui tenun kain Mamasa yang dibuatnya dengan harga permeternya lima puluh ribu rupiah

 

 

Di akhir kegiatan Daniel menyampaikan kesannya selama mengikuti pelatihan mewakili peserta yang hadir di Desa Rantepuang Kecamatan Sesena Padang “Harapan kami semoga apa yang kami peroleh dapat kami transfer bagi teman-teman kami dikelompok masing-masing dan sepanjang pelatihan yang kami ikuti baru kali ini kami dapatkan pengalaman yang lebih baik” ungkapnya.

 

Feedback
Share This: