Ranger Cilik dari Mamuju

Anda di sini

Depan / Ranger Cilik dari Mamuju

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Ranger Cilik dari Mamuju

Hamparan laut di sebelah kanan dan susunan perbukitan di sebelah kiri menyambut saat memasuki kota Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Deretan huruf raksasa berwarna putih bertuliskan Mamuju City berdiri tegak di atas bukit dikelilingi pepohonan hijau, mengingatkan kita kepada ikon Hollywood di Amerika. Kapal-kapal berlabuh di pelabuhan, dilatarbelakangi gugusan pegunungan dan Pulau Karampuang.

Hutan-hutan tersebar di berbagai daerah di Mamuju. Mulai dari hutan lindung, hutan produksi hingga hutan suaka alam. Secara keseluruhan hutan di Kabupaten Mamuju memiliki luas 835.214 hektare. Aset berharga yang dimiliki Mamuju ini sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan, terutama oleh generasi-generasi penerus bangsa.

Rabu 4 Oktober 2017, di aula SD Inpres Binanga 1, seratus murid dari tiga sekolah berkumpul dikomandoi beberapa guru. Pagi itu mereka kedatangan tamu. Yayasan BaKTI bekerjasama dengan MCA Indonesia mengadakan Pemutaran Video Animasi dan Sosialisasi Buku Komik Mari Mengenal Hasil Hutan Bukan Kayu.

 

 

“BaKTI merupakan singkatan dari Bursa pengetahuan Kawasan Timur Indonesia. Kami adalah lembaga yang concern pada pertukaran pengetahuan, salah satunya dalam program Kemakmuran Hijau. Tujuan dari proyek Kemakmuran Hijau adalah penanaman wawasan lingkungan, bagaimana melakukan pembangunan rendah karbon. Kami menginginkan penanaman wawasan lingkungan yang dimulai sejak dini, karena itu kami membuat video animasi dan buku komik untuk anak-anak,” kata Ibu Afdhaliya Marifah selaku Communication Officer and Outreach (COO) Yayasan BaKTI saat pembukaan acara. Ibu Afdhaliya juga berpesan agar anak-anak dapat berbagi pengetahuan bersama teman mereka dengan membaca buku komik tersebut bersama-sama.

Selain COO Yayasan BaKTI, hadir pula Direktur Komunikasi MCA Indonesia, Ibu Mia Fitri. Dalam kesempatan tersebut Ibu Mia memperkenalkan MCA Indonesia sebagai lembaga pemerintah di bawah Bappenas yang diberi mandat untuk mengelola dana hibah dari kerjasama Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia, dimana salah satu proyek yang sedang mereka kerjakan bersama Yayasan BaKTI adalah proyek Kemakmuran Hijau yang mengangkat isu lingkungan.

Acara pagi itu dibuka oleh Kepala Seksi Kurikulum dan Peserta Didik Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Mamuju, Bapak Drs. H. Abd. Hasan, M.Si didampingi oleh Kepala Sekolah SD Inpres Binanga 1, Bapak Asri Panangngareng, SS.

 

 

“Mamuju memiliki kawasan hutan yang luas namun sebagian besar belum dimanfaatkan dengan maksimal. Mari kita membina anak-anak sejak dini agar menjaga kelestarian hutan, karena jika hutan terancam maka kehidupan kita pun ikut terancam,” kata Pak Abd. Hasan saat membuka acara, “Saya berterima kasih kepada Yayasan BaKTI dan MCA Indonesia yang telah menyelenggarakan acara ini dan yakin anak-anak akan bertambah pengetahuannya setelah menonton video animasi dan membaca buku komik,”

Setelah acara resmi dibuka, Ibu Mia Fitri menyerahkan secara simbolis buku komik kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju yang nantinya akan diserahkan kepada perpustakaan sekolah yang tidak sempat hadir pada hari itu.

 

 

Suasana mulai riuh saat acara diambil alih oleh host dari Rumah Dongeng Makassar, Kak Heru. Gabungan suara para siswa dari SD Inpres Binanga 1, SD Inpres Binanga 3, dan SD Negeri 3 Tambi memenuhi Aula. Mereka berseru mengikuti nyanyian dari Kak Heru.

Kalau kau suka hati teriak hutan! Kalau kau suka hati teriak kayu! Kalau kau suka hati mari kita lakukan, kalau kau suka hati tepuk tangan...

Sebelum video animasi diputar, panitia dari Yayasan BaKTI membagikan lembar pre test kepada para siswa. Pre test ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari video animasi dan buku komik terhadap anak-anak kelas 4, 5, dan 6 yang mengikuti kegiatan. Di akhir acara nanti, lembar post test pun akan dibagi untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan pengetahuan atau tidak.

Video animasi diputar dalam dua sesi. Setelah film diputar selama dua menit, film dhentikan dan sang host, Kak Heru memberikan pertanyaan seputar Hasil Hutan Bukan Kayu seperti madu dan kemiri. Madu diproduksi oleh lebah, sedangkan kemiri dihasilkan oleh pohon yang banyak tumbuh di hutan. Madu merupakan antioksidan yang kuat, dapat menghaluskan kulit serta menjadi obat bagi penyakit pernafasan. Sedangkan kemiri dimanfaatkan untuk kecantikan karena dapat menyuburkan alis, bulu mata, serta menyuburkan rambut. Setiap anak yang berhasil menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah menarik.

 

 

Pada sesi kedua, video animasi kembali menampilkan hasil hutan bukan kayu. Selain madu dan kemiri, ada pula bambu, aren, dan kayu pelet. Bambu bisa dibuat menjadi alat musik, pagar rumah, peralatan dapur, hiasan dan meubel. Aren selain sebagai gula (pemanis), juga bisa menjadi bumbu masakan. Sementara kayu pelet dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar memasak. Bukan hanya murah, kayu pelet juga ramah lingkungan. Setelah video animasi ditayangkan, hadiah kembali dibagikan kepada siswa-siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari Kak Heru.

“Minggir dong, minggir dong, minggir dong.

Penjaga hutan mau lewat.

Kami punya hutan yang harus kita jaga.

Minggir dong, minggir dong, minggir dong.”

Gemuruh suara anak-anak kembali terdengar. Seratus anak bernyanyi sembari bertepuk tangan mengikuti nyanyian Kak Heru. Mereka tak sabar ingin segera membaca buku komik Mari Mengenal Hasil Hutan Bukan Kayu. Setiap anak mendapatkan satu buku komik. Sebelum membaca, mereka dibagi ke dalam lima kelompok. Setiap kelompok berisi dua puluh anak dari sekolah yang berbeda. Kelima kelompok ini duduk melingkar. Mereka asyik mendiskusikan nama kelompok. Ada yang memilih nama Kemiri, Daging, Kayu Pelet, Madu dan Aren.

Seusai memilih nama kelompok, mereka pun mulai membaca komik bersampul putih tersebut. Isi komik tidak jauh dari konten video animasi, namun berisikan informasi yang lebih rinci di mana hasil hutan bukan kayu juga memiliki nilai ekonomis sehingga bisa menjadi mata pencaharian masyarakat, selaras dengan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Mamuju. Suasana menjadi hening, semua  anak serius membaca buku. Tak lama berselang, satu dua anak mulai berseru “Selesai!” menandakan mereka telah menamatkan buku tersebut.

 

 

Setelah semua selesai membaca, lagi-lagi Kak Heru membagi hadiah kepada mereka. Syaratnya, setiap kelompok harus membuat satu pertanyaan tentang nama kelompok mereka. Anak dari kelompok lain akan berebutan menjawab pertanyaan yang dilemparkan setiap kelompok. Yang berhasil menjawab mendapatkan hadiah yang diserahkan langsung oleh anggota kelompok yang memberikan pertanyaan. Anak-anak begitu antusias memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Ada yang sekali menjawab jawabannya tepat, namun ada pula yang salah menebak jawaban. Ada kelompok yang melempar pertanyaan mudah, ada pula yang memberikan pertanyaan sulit hingga harus berganti-ganti penjawab.

 

 

Di penghujung acara, Kak Heru menceritakan dongeng tentang Annisa yang bertemu seorang jin dan boneka monyet bernama Momo. Anak-anak begitu riang gembira mendengarkan dongeng.

Hari itu, bukan hanya para siswa yang menikmati acara, namun juga para guru yang mendampingi. “Kegiatan ini sangat berguna bagi saya karena bisa menjadi inspirasi untuk mengajarkan anak-anak tentang hasil hutan bukan kayu,” ujar Ibu Ramliah, salah seorang guru yang hadir saat itu.

Yayasan BaKTI berharap dengan berakhirnya kegiatan ini anak-anak siap menjaga aset berharga yang dimiliki daerah mereka, tempat mereka tinggal.

 

 

Feedback
Share This: