Sumber Daya Manusia, Tantangan Utama Elektrifikasi Indonesia

Anda di sini

Depan / Sumber Daya Manusia, Tantangan Utama Elektrifikasi Indonesia

Pesan peringatan

Not able to connect with Facebook

Sumber Daya Manusia, Tantangan Utama Elektrifikasi Indonesia

Indonesia pernah mengalami masa-masa keemasan, dimana Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan minyak atau yang sering disebut era bonanza. Tapi masa-masa itu kini telah berakhir, produksi minyak bumi yang pernah mencapai puncaknya pada 1997 sebesar 1,6 juta barel per hari, kini tinggal separuhnya. Cadangan minyak Indonesia pun menurun paling cepat di Asia.  Dari sekitar 12 miliar barel pada 1980 menjadi tinggal tersisa kurang dari 4 miliar barel. Cadangan yang jauh lebih rendah dibandingkan dari Malaysia yang penduduknya hanya sepersembilan dari Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi terbesar di dunia. Berdasarkan data Direktorat Energi Baru-Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), peningkatan konsumsi energi Indonesia beberapa tahun belakangan ini mencapai 7% per tahun.Tentu hal ini menjadi perhatian pemerintah, ditengah lajunya peningkatan kebutuhan energi yang sebanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi, justru kini menghadapi pengurangan cadangan. Padahal kebutuhan listrik menjadi cerminan pertumbuhan ekonomi.

Mengingat pentingnya energi tidak hanya untuk ekonomi tetapi juga untuk ketahanan sosial,  maka beralih kepada energi yang bersih, ramah lingkungan serta dapat diperbaharui menjadi keharusan. Untuk itu, pemerintah telah menetapkan UU No 30 tahun 2007 tentang Energi dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dimana didalammnya juga mengatur tentang pengembangan energi terbarukan. Baru-baru ini pemerintah juga sudah menyiapkan tiga program terkait pemanfaatan energi baru terbarukan, yakni konversi energi mengurangi penggunaan energi fosil, mengembangkan energi baru layaknya batubara cair, gas metana, batu bara, nuklir, hidrogen dan metana, serta energi terbarukan dari panas bumi, air, bioenergi, surya, angin dan laut.

Ini menjadi momentum untuk pengembangan energi terbarukan. Pertanyaannya, Siapkah Kita? Siap atau tidak, hal tersebut harus tetap dilakukan. Karena kebutuhan energi yang semakin mendesak serta tuntutan internasional untuk mengurangi emisi karbon yang sebagian besar dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar. Selain itu, Indoensia juga memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Akan tetapi meski memiliki potensi yang sangat besar serta telah didukung dengan regulasi, pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala. Dari sisi teknis masih sering terkendala oleh perizinan, penyediaan lahan dan kurangnya kemampuan investor.  Dominasi penggunaan bahan bakar minyak, harga peralatan yang cukup mahal, serta kurang optimalnya pengelolaan sektor publik menjadi kendala dari sisi non teknis. Akan tetapi yang paling utama dari semua kendala tersebut adalah rendahnya sumber daya manusia dibidang teknologi terbarukan yang hingga kini baru tercatat sebanyak 10 orang ahli TET di Indonesia.

Dalam hal ini, kehadiran proyek PEKA SINERGI yang dilaksanakan oleh KM Utama beserta konsorsiumnya. Selain mempersiapkan tempat pelatihan serta modul untuk Uji Kompetensi, Peka Sinergi juga terus melakukan forum diskusi guru-guru mata pelajaran  bidang TET setiap bulannya dalam bentuk MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Untuk bulan Maret ini, MGMP dilakukan secara tematik. Yaitu TET Surya dan Angin yang dilaksanakan pada tanggal 6 bertempat di SMK 3 Mataram, TET Biomassa yang dilaksanakan di SMK Kuripan pada tanggal 7 Maret serta TET bidang Mikro Hydro yang dilaksanakan pada tanggal 8 Maret di SMK 1 Lingsar. Dengan Narasumber ahli energi terbarukan dari TEDC Bandung dan Universitas Mataram.

Tentu, kegiatan yang dilakukan oleh Proyek PEKA SINERGi ini sejalan dengan semangat mewujudkan pemanfaatan energi terbarukan hingga 25% pada tahun 2025 yang hingga kini pemanfaatnnya masih sekitar 6,8% sebagai upaya menurun emisi karbon. Selama ini, pengelolaan energi terbarukan masih dalam skala kecil hingga sedang. Akan tetapi keberadaannya tidak bisa bertahan akibat kurang kompetitif dibandingkan dengan Pasokan Listrik dari PLN. Untuk dapat mendukung kemampuan kompetitif dari energi terbarukan maka harus disesuaikan teknologi yang akan dipergunakan, tentu saja yang sesuai dengan karakteristik daerah. Terlebih lagi Indonesia adalah negara kepulauan. Kembali, pada kondisi ini SDM menjadi hal yang sangat menentukan. Tenaga-tenaga ahli bidang EBT  inilah yang akan melakukan inovasi teknologi agar harga peralatan dapat dijangkau oleh masyarakat, melakukan maintenance atas investasi EBT yang diterapkan, seta dapat terjun dalam perusahaan penyedia alat-alat  pendukung energi terbarukan. Oleh karena itu, untuk dapat menghasilkan tenaga kerja yang berkompeten dalam bidang TET perlu mendapatkan dukungan semua pihak.

Feedback
Share This: