Menangkap Peluang Replikasi Aktivitas Peningkatan Ekonomi Ramah Lingkungan untuk Sumba Barat

You are here

Home / Menangkap Peluang Replikasi Aktivitas Peningkatan Ekonomi Ramah Lingkungan untuk Sumba Barat

Warning message

Not able to connect with Facebook

Menangkap Peluang Replikasi Aktivitas Peningkatan Ekonomi Ramah Lingkungan untuk Sumba Barat

Proyek Kemakmuran Hijau MCA Indonesia hingga saat ini telah tiba pada tahap implementasi kegiatan. Dalam rangka mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai aktivitas tersebut, pada Selasa 22 Agustus 2017 Pemerintah kabupaten Sumba Barat melaksanakan rapat koordinasi. Rapat berlangsung di Aula Bappeda dan melibatkan beberapa SKPD serta penerima hibah untuk Proyek Kemakmuran hijau MCA Indonesia yang memiliki lokasi program di kabupaten Sumba Barat.

 

Rapat koordinasi ini dibuka oleh Drs. Alfonsus Seran selaku kepala Bappeda kabupaten Sumba Barat. Dalam sambutannya beliau mengatakan pihak pemerintah perlu melihat peluang-peluang dari program-program yang telah berjalan yang bisa direplikasi dengan bantuan dana APBD untuk perencanaan tahun selanjutnya karena segala persiapan sudah harus dimulai.

“Bagaimana pun juga kabupaten perlu mengambil sikap terhadap kebijakan dari propinsi terkait perencanaan program yang akan berjalan.” kata Bapak Alfonsus terkait rencana replikasi program-program yang dirasa akan memberikan dampak possitif bagi masyarakat kabupaten Sumba Barat.

 

Masing-masing lembaga penerima hibah yang hadir mempresentasikan progres lembaga dan hal-hal yang akan dilakukan dengan sisa waktu progran yang masih ada. Selain itu dipaparkan juga tantangan atau kendala yang mungkin di temui dalam proses berjalannya program. Di kabupaten Sumba Barat, ada 4 proyek di 29 desa dengan rincian: 6 desa di Kecamatan Kota, 8 desa di Kecamatan Loli, 9 desa di Kecamatan Wanokaka, 2 desa di Kecamatan Lamboya, 1 desa di Kecamatan Lamboya Barat dan 2 desa di Kecamatan Tanarighu.

5 proyek lainnya berkegiatan di kabupaten, berupa penguatan kapasitas dan bantuan peralatan untuk pengelolaan tata ruang, geospasial, managemen sistem informasi, perencanaan dan penganggaran hijau, pembangunan rendah emisi dan berkelanjutan (ramah lingkungan).

Konsorsium Hivos dimana YRE juga menjadi bagian di dalamnya memiliki dua program, yakni  program TERANG, Investasi dalam Energi Terbarukan untuk Masyarakat terpencil yang Kegiatan utamanya adalah pembangunan biogas rumah dan PV School serta program GADING atau Gathering and Dissemination of Information and Green Knowledge for a Sustainable Integrated Farming Workforce in Indonesia yang fokus pada pemanfaatan limbah biogas rumah (bio-slurry) menjadi pupuk, pakan ikan dan pengembangan lemna (tanaman berprotein tinggi untuk pakan ternak), serta pengembangan bisnis. Implementasi akses teknologi EBT yang telah dilakukan melalui program TERANG maupun GADING adalah 25 unit PLTS sekolah & lampu isi ulang (6000 pengguna, 50 unit pv agroprocessing penggiling/pemipil jagung (2500 pengguna), 20 unit kios energi lampu isi ulang (1000 pengguna) serta 3,200 unit biogas rumah (600 unit di sumba )  melalui program biru.

 

 

Adapun konsorsium sumba hijau adalah konsorsium yang memiliki fokus pada kegiatan pertanian, kehutanan, perikanan air tawar, sarana pertanian skala kecil (embung dan irigasi) dan energi terbarukan (solar cell skala rumah tangga). Ketua konsorsium ini adalah Burung Indonesia. Anggota konsorsium yang bekerja di wilayah Sumba Barat adalah Yayasan Bahtera, yang mendampingi 24 desa yang tersebar di Kecamatan Kota (6 desa), Loli (4 desa), Wanukaka (9 desa), Lamboya (1 desa), Laboya Barat (2 desa) dan Tanarighu (2 desa). Aktivitas yang sudah dilakukan oleh konsorsium ini adalah penguatan kapasitas petani melalui pelatihan, penerimaan bantuan benih dan bibit, bantuan untuk perbaikan pengairan yang dipilih berdasarkan kriteria kebutuhan air dan potensi pengembangan pertanian.  
Blue Carbon Concortum atau BCC adalah konsorsium yang fokus pada pengembangan wilayah pesisir.

Di kabupaten Sumba Barat, wilayah sasaran BCC (desa demoplot) adalah Desa Weihura untuk perikanan tangkap serta pengolahan hasilnya dan Desa Patiala Bawa untuk pengembangan Ekowisata. Aktivitas yang telah dilakukan adalah musyawarah pembangunan demplot ekowisata, pelatihan kelompok sadar wisata (pokdarwis), pelatihan pembuatan paket ekowisata, pelatihan integrasi ekowisata dalam rpjmdes, pengembangan sanitasi, pembangunan sarana wisata (pembuatan sign board,welome sign dan visitor enter), musyawarah desa waihura, serta pelatihan pengeloaan usaha perikanan di desa waihura.

Perguruan Tinggi untuk Indonesia Hijau atau yang dikenal dengan konsorsium Petuah memiliki proyek untuk membangun 6 pusat keunggulan (center of excellence) di beberapa propinsi/daerah sesuai potensi sumberdayanya. Ketua konsorsium adalah IPB Bogor yang menggandeng 6 universitas lokal di wilayah kerjanya. Untuk NTT, konsorsium ini menggandeng Undana. Untuk wilayah NTT (Sumba), proyek ini membangun pusat keunggulan pertanian lahan kering (arid-land agriculture), yang ditangani oleh Undana
LPEM FEUI adalah lembaga yang  menangani proyek penganggaran hijau (green budgetting), yang bertujuan meningkatkan peluang pemerintah kabupaten dan propinsi dalam memperoleh dana yang memadai untuk mendukung kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan, dengan menyediakan rekomendasi, pelatihan dan bantuan teknis yang berdasarkan fakta/bukti. Proyek ini menyediakan bantuan teknis dan advokasi kebijakan tentang bagaimana mengoptimalkan anggaran pendapatan dan belanja menggunakan perspektif penganggaran hijau.

 

 

Konsorsium lain yang juga memiliki aktivitas di kabupaten Sumba Barat adalah konsorsium pembangunan berkelanjutan NTT yang mendampingi 3 wilayah DAS di sumba yakni  10 desa di DAS Mangamba Katewel (sumba barat daya), 10 desa di DAS Karendi (sumba barat dan sumba tengah) dan 10 desa di DAS Kambaniru (Sumba timur).  Anggota konsorsium yang bekerja di Sumba Barat adalah Yayasan Satu Visi, yang mendampingi 5 desa yakni Tanarara, Tematana, Dokakaka, Baliledo dan Manola. Tiga kegiatan utama konsorsium ini adalah pengembangan holtikultura, pakan ternak dan bank pohon. pencapaian yang ingin dituju diwilayah Sumba Barat adalah peningkatan ekonomi rumah tangga miskin di 5 desa dan mengurangi emisi gas rumah kaca melalui perbaikan pengelolaan sumber daya alam wilayah  DAS  Karendi. Beberapa aktivitas yang telah diakukan adalah Sosialisasi program, baseline data, fgd landscape lifescape analisis, fgd kajian kondisi dan resiko emisi gas rumah kaca, penyusunan dokumen portofolio komoditas, inisiasi pasar bersama petani dan pedagang, berbagai pelatihan untuk peningkatan pasitas petani serta follow up pelatihan kelompok, penyusunan rencana aksi desa untuk mitigasi pengurangan emisi gas rumah kaca, distribusi bahan pembuatan bokasi, media informasi berupa leaflet, alat pelindung diri berupa masker, integrasi RADes ke dalam rencana pembangunan desa tahun 2017/2018, budidaya sengon dan kaliandra, lamtoro terambah untuk pakan sapi, ubi ungu  untuk pakan babi. Ada pun aktivitas yang sementara dilakukan adalah pendistribusian benih hortikultura, pendistribusian saran penampungan air untuk lahan pertanian, pendistribusian kawat duri, penyediaan sarana air bersih untuk lahan pertanian dukungan dana desa di desa dokakaka  serta monitoring dan evaluasi.

 

 

Sementara itu Yayasan BaKTI bertugas untuk menuliskan dan mempublikasikan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh lembaga-lembaga penerima hibah. BaKTI adalah Lembaga yang bekerja dengan tujuan mengumpulkan,mengolah dan menyebarluaskan pengetahuan dan praktek cerdas (smart practices) atau praktek-praktek baik yang dilakukan oleh masyarakat ataupun mitra/Grantee Proyek Kemakmuran Hijau MCA Indonesia. Yayasan BaKTI memilih media-media populer sebagai ruang penyebaran informasi dan hingga saat ini telah ada 6 artikel tentang pembangunan rendah karbon di Sumba yang dimuat dalam majalah BaKTINews, 15 produk Info graphics telah dihasilkan dan dipublikasikan, 1 Website (pengetahuanhijau.com) memuat informasi aktivitas pengetahuan hijau dan Proyek Kemakmuran Hijau,  16 artikel (dari 3 media visits) tentang pembangunan rendah karbon telah dimuat di media mainstream lokal dan nasional. Dua (2) Media visit telah dilaksanakan di Sumba, SMS broadcast system untuk mendiseminasi informasi terkait isu-isu pembangunan rendah karbon (278 content SMS Berita GK telah dibroadcast secara keseluruhan sampai dengan July 2017). Tiga (30 film tentang praktik cerdas pembangunan rendah karbon.   Tiga (3) seri komik dan video animasi  terkait isu-isu pembangunan rendah karbon. Lebih dari 400 buku komik yang sudah didistribusikan di Sumba antara lain sekolah target, Dinas Pendidikan, dan beberapa taman baca di Sumba. Selain itu, Pertemuan Kepala BAPPEDA Provinsi Wilayah Target Proyek Kemakmuran Hijau, MCA-Indonesia dan Green Prosperity Knowledge Fair Tanggal 13-14 November 2016 di Jakarta yang dihadiri peserta lebih dari 250 orang, 6 Diskusi Hijau telah dilaksanakan di Sumba dan 3 Green News Café bagi Jurnalis telah dilaksanakan dan melibatkan 104 peserta.

Dari hasil pemaparan program masing-masing lembaga, Bappeda Kabupaten Sumba Barat akan berusaha menangkap aktivitas yang bisa direplikasi oleh pihak pemerintah untuk tahun selanjutnya sehingga bisa disediakan anggaran dalam penyusunan APBD. Bapak Imanuel Moses Kalegotana selaku moderator berharap dinas-dinas terkait yang juga hadir dalam rapat koordinasi ini bisa melihat peluang untuk bersinergi antar dinas atau berkolaborasi antar SKPD dalam penyusunan rencana program selanjutnya. Contohnya, pada program biogas yang membutuhkan kotoran ternak dan dari ampas biogas itu bisa menghasilkan pupuk bio-slurry yang sangat bermanfaat itu bisa dilihat sebagai peluang program dari Dinas Peternakan dan Dinas Pertanian karena bisa saling mengisi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat kabupaten Sumba Barat, NTT. **

Contact
Share This: